BUKU UNGGULAN

PAPUA: JEJAK LANGKAH PENUH KESAN

Judul: Papua: Jejak Langkah Penuh Kesan Penulis: Frino Bariarcianur & Ahmad Yunus Kata Sambutan: Susilo Bambang Yudhoyono Bahas...

Monday, November 11, 2019

NOVELET ORI Y.B. MANGUNWIJAYA: BALADA BECAK


Balada Becak atau Sebuah Riwayat Melodi Yus-Riri merupakan novel pertama karya Yusuf Bilyarta (Y.B.) Mangunwijaya yang diterbitkan sebagai buku dengan mencantumkan nama asli penulisnya. Novel pendek atawa novelet tersebut diterbitkan Balai Pustaka pada 1985. Empat tahun sebelumnya, 1981, Pustaka Jaya menerbitkan novel pertamanya, tapi dengan nama samara, yakni Y. Wastu Wijaya. Sekitar 31 tahun kemudian, 2016, Penerbit Buku Kompas menerbitkan kembali Balada Becak. Buku terbitan baru itulah yang kami jual di sini.

Balada Becak mengisahkan cerita cinta antara Yusuf dan Riri, orang-orang pinggiran, dunia yang selama ini digeluti penulis yang akrab disapa Romo Mangun ini. Yusuf adalah adik seorang pemilik bengkel mobil dan Riri adalah anak Bu Dullah, pedagang gori.

Yus sedang belajar bertanggung jawab untuk menggantikan peran ayahnya yang sedang sakit. Setiap pagi, dia mengayuh becak peninggalan ayahnya menuju sebuah warung gudeg. Becak tersebut memuat tumpukan gori. Bu Dullah yang gemuk duduk di atas tumpukan gori dan Riri membonceng di sadel di belakang Yus. Sorenya, Yus menjemput mereka berdua untuk pulang ke rumah.

Keseharian seperti itulah yang melahirkan kisah kasih Yus dan Riri. Riri naksir Yus lebih dulu. Awalnya, Yus malah mahasiswi pemilik mobil yang pernah diperbaikinya di bengkel kakaknya. Tapi, perlahan-lahan, dia jatuh hati juga kepada Riri. Antar-jemput Riri yang setiap hari makin mendekatkan hati mereka dan saling memahami.

Kisah cinta yang sederhana dan manis itu bergulir di antara kisah-kisah lain yang mendukung alur cerita. Mulai dari kisah-kisah teman-teman di bengkel milik kakak Yus, kegiatan ronda kampung, hingga insiden pencurian mobil. Kisah hidup mereka penuh warna. Di sana-sini, penulis melontarkan sentilan-sentilan halus yang dapat menyentuh sanubari.

Judul:  Balada Becak atau Sebuah Riwayat Melodi Yus-Riri
Penulis: Y.B. Mangunwijaya
Bahasa: Indonesia
Kulit Muka: Soft Cover
Tebal: 96 Halaman
Dimensi: 13 x 19 Cm
Penerbit: Buku Kompas, Jakarta
Tahun: 2016
Kondisi: Sangat Bagus (Masih segel.)
Harga: Rp39.000
Stok: 1

Semua buku yang kami jual merupakan buku original, termasuk buku ini.




Sunday, November 10, 2019

NOVEL ORI NASJAH DJAMIN: YANG KETEMU JALAN, CETAKAN VII


Novel Yang Ketemu Jalan karya Nasjah Djamin berkisah tentang anak muda perkotaan yang gemar kebut-kebutan di jalan. Namanya Bambang. Dia gelisah gara-gara diejek kekasihnya dengan kalimat “Kau sudah melempem, Bang!” Sejak saat itu, Bambang merasa tak sanggup kebut-kebutan lagi.

Kehilangan gairah kebut-kebutan mengantarkan Bambang menemukan jalan pulang, yakni kembali ke asalnya, pulang kampung, untuk membantu keluarga. Di sana, pikiran dan hatinya seperti tercerahkan melalui sawah, sungai, sepeda ontel, dan gadis kembang kampung. Melalui alam dan masyarakat pedesaan, pikiran dan perasaannya mengalami pertobatan.

Nasjah mengembalikan Bambang ke muasalnya di desa lantaran di kota dia berkembang terlalu jauh, tak terkontrol. Ini laksana senandung: burung pulang ke sarang, ketam diam di liang, dan di lautan, ikan-ikan berenang. Setiap manusia sangat mungkin salah menempuh jalan dan salah satu cara menebus kesalahan itu adalah menyublimasi diri dengan kesederhanaan, ketenangan, dan kebeningan di pedesaan.

Judul: Yang Ketemu Jalan
Penulis: Nasjah Djamin
Bahasa: Indonesia
Kulit Muka: Soft Cover
Tebal: 112 Halaman
Dimensi: 15 x 21 Cm
Penerbit: PT Penerbitan dan Percetakan Balai Pustaka, Jakarta
Tahun: Cetakan Ketujuh, 2001
Kondisi: Cukup Bagus (Penanda bekas perpustakaan di cover dan di balik cover belakang. Stempel perpustakaan di halaman 1.)
Harga: Rp19.000
Stok: 3

Semua buku yang kami jual merupakan buku original, termasuk buku ini.






Saturday, November 9, 2019

BUKU ORI S.Z. HADISUTJIPTO: BANGSACARA RAGAPADMI, CETAKAN II


Kisah cinta abadi yang berakhir tragis berserak di banyak negeri. Dari Timur Tengah, kita mengenal kisah Qais dan Layla atau Layla dan Majnun. Dari India, kita mendengar kisah Rama dan Shinta. Dari Inggris, kita terpesona oleh kisah Romeo dan Juliet.

Di Indonesia, kita juga mengenal beberapa kisah yang senapas. Dari Madura, Jawa Timur, kita mengenal Bangsacara dan Ragapadmi. Dari Jawa Tengah, kita diwarisi Raramendut dan Pranacitra. Dari Bali, kita dibekali Jayaprana dan Layonsari.

Bangsacara Ragapadmi yang ditulis ulang oleh S.Z. Hadisutjipto ini bersumber dari kisah cinta asal Madura itu. Kisah yang dulu sangat populer di Madura ini bermula dari kemenyerahan Raja Bidarba dari negeri Pacangan, Madura, menghadapi penyakit salah seorang istrinya: Ragapadmi. Perempuat muda yang cantik tersebut didera penyakit campak yang tak kunjung sembuh, meskipun berbagai cara sudah diupayakan raja untuk menyembuhkannya.

Akhirnya, dia memerintahkan pelayan yang disayanginya, Bangsacara, untuk membawa Ragapadmi ke rumahnya dan mengambilnya sebagai istri. Raja juga memerintahkan istrinya untuk mematuhi keputusannya dan berharap Ragapadmi menemukan kebahagiaan bersama  Bangsacara.

Ragapadmi merasa dicampakkan. Bangsacara pun merasa jijik melihat tubuh Ragapadmi. Bahkan, dia bersumpah bahwa dia rela hancur lebur seperti tanah jika dirinya kelak mengambil Ragapadmi sebagai istri.

Selain memiliki istana megah itu, raja Bidarba memiliki banyak pembantu. Salah satu pembantu setianya bernama Bangsacara. Sementara patih raja bernama Bangsapati. Orang yang disebutterakhir ini sangat iri kepada Bangsacara karena raja selalu memberikan berbagai tugas penting kepada Bangsacara.

Meski begitu, sesuai dengan perintah raja, Bangsacara membawa Ragapadmi ke rumahnya di desa. Bangsacara meminta ibunya merawat Ragapadmi, lalu meninggalkan mereka berdua.

Ibunya mengobati penyakit campak Ragapadmi dengan tepung prusi. Dia membaluri tubuh Ragapadmi setelah dia mandi. Ragapadmi sempat pingsan akibat baluran tersebut. Tapi, beberapa hari kemudian, dia sembuh dari penyakit campaknya dan bertambah cantik.

Setelah beberapa bulan, Bangsacara ke rumahnya. Dia takjub melihat Ragapadmi yang benar-benar sembuh dan menjadi sangat cantik. Lebih cantik dari sebelumnya. Bangsacara pun kemudian jatuh hati.

Semula, Ragapadmi tak menerimanya. Dia masih sakit hati dengan sumpah Bangsacara yang didengarnya sendiri. Di sisi lain, dia juga takut sumpah Bangsacara menjadi kenyataan. Tapi, Bangsacara meyakinkannya bahwa jika Ragapadmi menerima cintanya dengan tulus, sumpahnya tak akan menjadi kenyataan. Mereka pun kemudian menjadi suami-istri dan menetap di Pulau Mandangin, Madura.

Namun, benarkah sumpah Bangsacara tak akan mewujud? Apa yang diperintahkan Raja Bidarba kepada Patih Bangsapati setelah berbulan-bulan Bangsacara tak kembali ke istana? Apa yang dilakukan Patih Bangsapati setelah menemukan Bangsacara dan Ragapadmi?

Semua jawaban atas pertanyaan tersebut, termasuk akhir kisah ini, dapat ditemukan pada  cerita yang cocok dibaca oleh anak-anak ini.

Judul: Bangsacara Ragapadmi
Penulis: S.Z. Hadisutjipto 
Bahasa: Indonesia
Kulit Muka: Soft Cover
Tebal: 48 Halaman
Dimensi: 15 x 21 Cm
Penerbit: PN Balai Pustaka, Jakarta
Tahun: Cetakan Kedua, 1995
Kondisi: Cukup Bagus (Penanda bekas perpustakaan di dua lokasi. Stempel perpustakaan di satu lokasi. Punggung buku grepes, sehingga siap melepaskan cover.)
Harga: Rp14.000
Stok: 4 (1 TERJUAL)

Semua buku yang kami jual merupakan buku original, termasuk buku ini.





BUKU ORI S.Z. HADISUTJIPTO: BANGSACARA RAGAPADMI, CETAKAN VI


Judul: Bangsacara Ragapadmi
Penulis: S.Z. Hadisutjipto 
Bahasa: Indonesia
Kulit Muka: Soft Cover
Tebal: 48 Halaman
Dimensi: 15 x 21 Cm
Penerbit: PT Penerbitan dan Percetakan Balai Pustaka, Jakarta
Tahun: Cetakan Keenam, 2001
Kondisi: Cukup Bagus (Penanda bekas perpustakaan di dua lokasi. Stempel perpustakaan di dua lokasi.)
Harga: Rp12.000
Stok: 8 (1 TERJUAL)

Semua buku yang kami jual merupakan buku original, termasuk buku ini.






Friday, November 8, 2019

BUKU ORI RUDY HADISUWARNO: CSPLENDOUR, THE BOOK OF HAIRSTYLE

Melalui buku Csplendour, The Book of Hairstyle, Rudy Hadisuwarno menunjukkan kemegahan sekaligus keindahan seni menata rambut. Buku edisi bahasa Inggris ini menampilkan beberapa gaya ramput, mulai dari long style, medium style, short style, high comb, hingga men style. Di balik layar proses pemotongan rambut juga disajikan buku ini. Potret atau foto yang diperagakan para model menjadi medium utama bercerita.

Beberapa komentar tentang Rudy Hadisuwarno dan kiprahnya disajikan juga di buku ini. Mulai dari Martha Tilaar, Mooryati Sudibyo, Johann Kainrad, Ria Lirungan, hingga Warren Kiong. Profil singkat Rudy menutup buku ini.

The uniqueness of natural beauty grows an inspiration to reveal the glam essence. As a modern art creation: glamorous, natural, simple and sonfident, to embody sophistication as well as to mesmerize others. A manifestation of the resless mind of Rudy Hadisuwarno that constantly creates sparking ideas and great masterpieces.

The revelation has not yet ended since the vogue has reached a breakthrough. Where the magnificent work of hairstyling has become a surprising phenomenon. The enigma has been revealed by Rudy Hadisuwarno.

Judul: Csplendour, The Book of Hairstyle by Rudy Hadisuwarno
Fotografer: Gerard Adi
Art Director: Penny Sekartaji
Penulis: Nadya Chandra Dewi & Penny Sekartaji
Bahasa: Inggris
Kulit Muka: Hard Cover
Tebal: 70 Halaman
Dimensi: 30 x 30 Cm
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Tahun: Cetakan Pertama, 2005
ISBN   979-22-1258-2
Kondisi: Bagus (Buku baru stok lama. Pada beberapa eksemplar buku, ada bekas-bekas tertekan di cover dan sedikit terkelupas di sisi cover, seperti terlihat pada bagian yang ditandai dengan bingkai kuning. Posisi beberapa eksemplar buku miring.)
Harga Toko: Rp130.000
Harga Kami: Rp78.000 (Hemat Rp52.000)
Stok: 11


Semua buku yang kami jual merupakan buku original, termasuk buku ini.









Friday, November 1, 2019

BUKU ORI R.M. SOELARKO: SKENARIO: KONSEP DAN TEKNIK MENULIS CERITA FILM


Boleh jadi, Skenario: Konsep dan Teknik Menulis Cerita Film merupakan buku pertama dalam bahasa Indonesia yang membahas cara menulis skenario film cerita. Atau, sekurangnya, buku generasi awal dalam bahasa Indonesia yang berbicara tentang tema tersebut.

Penulisan buku ini dilatari kenyataan bahwa salah satu kelemahan utama film cerita Indonesia adalah skenario yang buruk. Tapi, setelah buku ini terbit dan beredar, kabarnya, kelemahan tersebut tak kunjung berkurang secara signifikan. Kepiawaian para sineas Indonesia menghasilkan gambar-gambar yang artistik tidak diimbangi dengan kualitas skenario yang bagus.

R.M. Soelarko membagi bukunya ke dalam 15 bab. Tujuh bab pertama berkaitan langsung dengan teknik penulisan skenario film cerita. Mulai dari konsep dasar cerita film, sifat dasar cerita film dan klasifikasi, unsur-unsur cerita film, struktur cerita film, tipe dan karakter tokoh, kebebasan penulis skenario, hingga sumber cerita film. Semuanya hanya memakan 35 halaman atau hampir 20% dari jumlah total halaman buku ini.

Delapan bab lain menguraikan hal-hal lain. Sebagian tidak berhubungan langsung dengan teknik penulisan skenario film cerita, yakni kriteria tentang mutu film, kelemahan-kelemahan dalam perfilm Indonesia, resensi film, humor, cerita pendek, dan sastra jurnalistik. Meskipun demikian, boleh jadi, penulis menganggap bahwa semua itu masih bermanfaat untuk penulis skenario film cerita, terutama tiga yang disebut lebih awal.

Sebagian lagi memang berhubungan langsung dengan teknik penulisan skenario film cerita, yakni contoh sinopsis dan contoh skenario film cerita. Contoh-contoh tersebut diberikan penulis dalam kapling halaman yang lebih panjang dari bab-bab lain.

Soelarko menyajikan puluhan contoh sinopsis cerita film nasional yang diproduksi selama 1975-1977. Dia mengelompokkannya dalam sinopsis film drama, sinopsis film humor, sinopsis film action, sinopsis film seks dan erotik, sinopsis film horror, serta sinopsis film penerangan. Sebuah sinopsis film cerita asing bergenre fiksi ilmiah menutup semua contoh pengelompokan tersebut: 2001: Space Odyssey yang disutradari Stanley Kubrick dan diproduksi dan dirilis MGM pada 1968.

Contoh-contoh sinopsis cerita film nasional membuat pembaca mengenang kembali atau mengenal produk-produk film tahun 1970-an. Bahkan, pada bagian awal buku, pembaca sudah disodori senarai film peserta Festival Film Indonesia 1978. Dari daftar tersebut, ada beberapa yang pantas disebut. Misalnya, Darah Muda, Semau Gue, Krakatau, Di Bawah Lindungan Ka’bah, Badai Pasti Berlalu, Yang Muda Yang Bercinta, Terminal Cinta, Pembalasan Si Pitung, Tante Sun, Ateng Sok Tahu, Akibat Pergaulan Bebas, Operasi Tinombala, Suci Sang Primadona, Letnan Harahap, Jakarta-Jakarta, dan Ali Topan Anak Jalanan.

Deretan sinopsis film cerita sendiri menampilkan film-film Semalam di Malaysia yang disutradarai Nico Pelamonia berdasarkan skenario yang ditulis Frank Rorimpandey, Bunga Roos dari Cikembang (Fred Young/Fred Young), Cinta Rahasia (Lukman Hakim Nain/Darto Juned), Cinta (Wim Umboh/Arifin C. Noer), Selalu di Hatiku (Hasmanan/Arifin C. Noer), Laila Majenun (Sjumandjaja/Sjumandjaja), Jinak-Jinak Merpati (Sophan Sophiaan/Teguh Karya), Rahasia Perawan (Ali Shahab/Ali Shahab), Kenapa Kau Pergi (Iksan Lahardi/Iksan Lahardi Group), Hanya Untukmu (A. Rizal/A. Rizal), Malam Pengantin (Lukman Hakim Nain/Indra Wijaya), Antara Cinta dan Kenyataan (Senja di Pantai Losari) (H.A. Chaidar Dja’far/H.A. Chaidar-M.N. Syan), Keluarga Sinting (Syamsul Fuad/Syamsul Fuad), Benyamin Raja Lenong (Syamsul Fuad/Syamsul Fuad), Si Doel Anak Modern (Sjumandjaja/Sjumandjaja), Zorro Kemayoran (Lilik Sudjio/Sofyan Sharna-Lilik Sudjio), Si Kabayan (Bay Isbahi/Sofyan Sharna), Ateng Sok Tahu (Hasmanan/Hasmanan-Sofyan Sharna), Tiga Sekawan (Chaerul Umam/Asrul Sani), Hippies Lokal (Benyamin S./-), Samson Betawi (Nawi Ismail/-), Tiga Gadis Badung (Nya’ Abbas Akup/Nya’ Abbas Akup), Ateng Kaya Mendadak (Pietrajaya Burnama/Kwartet Jaya-Pietrajaya Burnama), Benyamin Koboi Ngungsi (Nawi Ismail/Nawi Ismail), Balas Dendam (Bobby Sandi-Chun Chong Hua/Narto Erawan), One Way Ticket (Motinggo Busye/Motinggo Busye), Perempuan Histeris (Ratno Timoer/Ratno Timoer), Gadis Panggilan (Ratno Timoer/-), Ganasnya Napsu (Turino Junaidi/Turino Junaidi), Krisis X (Turino Junaidi/Turino Junaidi), Kampus Biru (Nya’ Abbas Akup/Nya’ Abbas Akup), Pelacur (Ratno Timoer/IM Chandra Adi), Aladin (Matnoor Tindaon/Husein Wijaya), Ranjang Siang Ranjang Malam (Ali Shahab/Ali Shahab), Della (Arwah Penasaran) (S.A. Karim/Irhandy Kasmara), Setan Kuburan (Daeng Harris/Daeng Harris), Penguni Bangunan Tua (M. Syarifudin A./M. Syarifudin A.), serta Tanah Harapan (Sofia W.D./Darto Juned).

Sebuah skenario yang lengkap juga disajikan buku ini. Judulnya Mutiara dari Samudra karya R.M. Soelarko sendiri.

Judul: Skenario: Konsep dan Teknik Menulis Cerita Film
Penulis: R.M. Soelarko
Bahasa: Indonesia
Kulit Muka: Soft Cover
Tebal: xii + 176 Halaman
Dimensi: 22 x 30 Cm
Penerbit : PT Karya Nusantara, Jakarta
Tahun: Cetakan Pertama, 1978
Kondisi: Cukup Bagus (Bersampul plastik. Stempel dan coretan pemilik sebelumnya di halaman i.)
Harga: Rp271.000
Stok: 2 (1 TERJUAL)

Semua buku yang kami jual merupakan buku original, termasuk buku ini.







Thursday, October 31, 2019

BUKU ORI KATALOG PAMERAN RELIGI DAN KESENIAN NUSANTARA: TERUNTUK SANG MAHA INDAH


Teruntuk Sang Maha Indah: Pameran Religi dan Kesenian Nusantara merupakan katalog pameran berbagai produk keagamaan dan kesenian yang diselenggarakan di Museum Nasional Indonesia selama 18 Agustus-7 September 2015. Katalog pameran dan pamerannya sendiri mencoba mempertemukan religi dan kesenian sebagai dua unsur yang saling berkaitan. “Religi menginspirasi kesenian, sebaliknya kesenian mendukung keberadaan religi,” tulis Kacung Marijan, Direktur Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, pada bagian “Kata Sambutan” katalog ini.

Katalog ini dipilah ke dalam lima bagian. Bagian pertama berisi tiga esai. Satu, “Pengantar Pameran Religi & Kesenian: ‘Teruntuk Sang Maha Indah’” yang ditulis Endo Suanda. Dua, “Seni dan Religi dalam Kebudayaan Nusantara” yang ditulis Agus Aris Munandar. Tiga, “Religi: Kesenian: Ritual: Pameran” yang ditulis G.R. Lono Lastoro Simatupang.

Bagian kedua, “Perkembangan Agama dan Kepercayaan di Indonesia”, memaparkan produk-produk keagamaan dan kepercayaan di Nusantara yang dihasilkan masyarakat masa prasejarah, masyarakat masa Islam, masyarakat masa kedatangan Cina dan Eropa, masyarakat kepercayaan lokal Marappu, dan masyarakat keagamaan masa kini. Produk-produk mereka berupa nekara, kapak upacara, arca menhir, arca Siwa Mahadewa,  arca Wisnu, arca Brahma, arca Maitreya, cakra, makara, ukiran kaligrafi Arab “La ilaha ilallah” dari Cirebon, Alqur’an dan terjemahannya dalam bahasa Jawa, bros emas bertatahkan permata dari Riau, patung keramik Buddha Avalokitasvara, patung gipsum Maria berkonde, kain sarung perempuan Sumba (lau witakau), anting-anting dari Sumba (mamuli kaka), piring keramik hiasan dinding bertulisan Arab dari Jawa Barat, kain tenun ikat Sumba (hinggi kurangu), lukisan “Salib” karya Bagong Kussudiardjo, lukisan “Beratapan Langit dan Bumi Amparan” karya A.D. Pirous, lukisan “Pura Satrya” karya S. Sudjojono, dan lain-lain.

Bagian ketiga, “Seni dalam Sistem Kepercayaan”, menampilkan naskah Samarqandi dan fiqih, Alqur’an Mushaf Pusaka, Injil Matius beraksara dan bahasa Makassar, Perjanjian Lama beraksara Arab Melayu, kitab ajaran Kong Hu Cu, kitab Dhammapada, kitab Wedha, kitab Bhagawad Ghita, beberapa kalung jimat, beberapa motif tato, pustaha laklak dari Batak, kepala pending, tarawangsa, suduk, arca Agastya, arca Ganesha, patung berhala dari Timor, patung nenek moyang dari Maluku, patung leluhur dari Sumatra Utara, hampatong dari Dayak, dan lain-lain.

Bagian keempat, “Peralatan Ritus dan Kesenian”, menyajikan keris Si Ginjei dari jambi, kain geringsing dari Bali, ulos sibolang dari Sumatra Utara, kain subahnale dari Lombok, padasan Paksinagaliman dari Cirebon, kamandalu dari Bondowoso, prasen dari Kediri, prasasti “tablet” dari Kendal, dan lain-lain. Bagian terakhir, “Emosi Keagamaan, Umat, dan Kesenian”, menghadirkan, antara lain, upacara tabuik dari Pariaman, permainan nini towok dari Jawa Tengah, tau-tau dari Toraja, dan sigale-gale dari Sumatra Utara.

Buku ini dilengkapi cukup banyak potret berwarna.


Kondisi Bagus 1
Judul: Teruntuk Sang Maha Indah: Pameran Religi dan Kesenian Nusantara, 18 Agustus-07 September 2015
Penulis: Endo Suanda, Agus Aris Munandar, G.R. Lono Lastoro Simatupang
Kata Pengantar: Intan Mardiana
Kata Sambutan: Kacung Marijan
Bahasa: Indonesia & Inggris
Kulit Muka: Soft Cover
Tebal: 160 Halaman
Dimensi: 21 x 28 Cm
Penerbit: Museum Nasional Indonesia, Jakarta
Tahun: Cetakan Pertama, 2015
ISBN: Tak Ada
Kondisi: Bagus (Penjilidan kurang kokoh.)
Harga: Rp67.000
Stok: 1

Semua buku yang kami jual merupakan buku original, termasuk buku ini.






Kondisi Bagus 2
Judul: Teruntuk Sang Maha Indah: Pameran Religi dan Kesenian Nusantara, 18 Agustus-07 September 2015
Penulis: Endo Suanda, Agus Aris Munandar, Lono Lastoro Simatupang
Bahasa: Indonesia & Inggris
Kulit Muka: Soft Cover + Kotak Buku
Tebal: 160 Halaman
Dimensi: 21 x 28 Cm
Penerbit: Museum Nasional Indonesia, Jakarta
Tahun: Cetakan Pertama, 2015
ISBN: Tak Ada
Kondisi: Bagus (Penjilidan kurang kokoh.)
Harga: Rp97.000
Stok: 5

Semua buku yang kami jual merupakan buku original, termasuk buku ini.






Wednesday, October 30, 2019

BUKU ORI KEMBANG GOYANG: ORANG BETAWI MENULIS KAMPUNGNYA (1900-2000)


Kembang Goyang: Orang Betawi Menulis Kampungnya (1900-2000) menghimpun 48 sketsa, puisi, dan prosa karya para penulis berdarah atau peranakan Betawi tentang kampong halaman mereka. Mulai dari penulis-penulis masa lampau seperti Oom Piet, Tio Ie Soei, Kwee Kek Beng, M. Balfas, S.M. Ardan, Firman Muntaco, dan N. Susy Aminah Aziz hingga penulis-penulis masa kini seperti Zeffry Alkatiri, Aba Mardjani, dan Chairil Gibran Ramadhan.

Kembang Goyang, menurut Laora Arkeman dalam pengantarnya, berhasil menunjukkan keberadaannya sebagai antologi yang merepresentasikan kekayaan alam Betawi dan mungkin buku pertama yang mengabadikan karya-karya penulis dari etnis Betawi selama 100 tahun terakhir.

Karya-karya dalam buku antologi ini, menurut Wahyu Wibowo, dosen dan pendiri Pusat Studi Betawi Universitas Nasional, “mencuatkan gambaran historis perihal gejala multikulturalisme masyarakat Betawi. Suatu hal yang wajar terjadi, tetapi justru di situlah kemampuan keberadaan kita dituntut dalam memahami nilai-nilai luhur Betawi sebagai penopang jati diri bangsa. Kembang Goyang adalah buku yang kudu dibaca oleh kalangan Betawi dan non-Betawi, karena merupakan buku nasional. Bukan buku lokal.”

Mega Trianasari Soendoro menilai, sekurangnya, ada tiga aspek yang bisa ditelaah dari Kembang Goyang berkaitan dengan Tanah Betawi dari masa ke masa. Mulai dari kondisi geografis, perkembangan bahasa Melayu, hingga kondisi sosial masyarakatnya.

Keadaan geografis tanah Betawi dapat ditengok melalui salah satu karya M. Balfas, “Si Gomar”. Melalui cerita tersebut, kita dapat mengetahui keadaan wilayah Cawang di Jakarta Timur pada 1950-an yang masih asri atau bahkan masih seperti desa kecil. Bandingkan dengan keadaan Cawang sekarang yang dipenuhi gedung tinggi sebagai kota besar yang padat.

Beberapa karya dalam Kembang Goyang juga menggambarkan perkembangan bahasa Melayu Pasar hingga menemukan bentuknya sebagai Bahasa Indonesia. Perkembangan ragam bahasa Betawi dalam perubahan sistem ejaan dan ragam subdialek juga diperlihatkan buku ini.

Buku ini juga laksana social time capsule karena pembaca dapat melakukan ziarah realitas sosial ke tiga zaman: zaman kolonial Belanda, zaman pendudukan Jepang, dan masa kemerdekaan. Sketsa berjudul “Bandot”—judul tersebut diberikan penyusun karena naskah aslinya tidak berjudul—karya Oom Piet mengisahkan realitas penyuapan dan pemerasan dalam praktek peradilan zaman Kolonial yang ditulis secara gamblang.

Kondisi zaman Jepang digambarkan melalui sketsa-sketsa karya Kwee Kek Beng. Misalnya, “Boekoe Kaboeroekan Djepang” menceritakan keadaan ketika Jepang sudah berhasil menguasai Pasifik. “Sinjo Mata Sipit” —judul tersebut diberikan penyusun karena naskah aslinya tidak berjudul—menggambarkan praktek pergundikan di kamp interniran milik Jepang. Keadaan sosial Jakarta yang sedang bergeliat menemukan bentuk idealnya pada zaman kemerdekaan pascarevolusi fisik dipotret melalui cerpen “Anak Revolusi” karya Balfas.

Judul: Kembang Goyang: Orang Betawi Menulis Kampungnya (1900-2000): Skesta, Puisi & Prosa
Penulis: Oom Piet, Tio Ie Soei, Kwee Kek Beng, M. Balfas, S.M. Ardan, Firman Muntaco, N. Susy Aminah Aziz, Zeffry Alkatiri, Aba Mardjani, Chairil Gibran Ramadhan
Penyusun: Chairil Gibran Ramadhan
Pengantar: Ibnu Wahyudi
Penutup: Yahya Andi Saputra
Penyunting: Laora Arkeman
Bahasa: Indonesia
Kulit Muka: Hard Cover
Tebal: xxiv + 320 Halaman
Dimensi: 15,5 x 24,5 Cm
Penerbit: Padasan, Jakarta
Tahun: Cetakan Pertama, 2011
Kondisi: Bagus (Masih segel, tapi ada segel yang sobek, sehingga muncul bercak-bercak kecokelatan di sisi luar buku.)
Harga Toko: Rp150.000
Harga Kami: Rp99.000 (Hemat Rp51.000)
Stok: 8 (2 TERJUAL)

Semua buku yang kami jual merupakan buku original, termasuk buku ini.